Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sumber Kekuasaan Menurut John R.P. French Dan Berthram Raven

 

Assalamu,alaikum...Wr.Wb.
Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT. Amin. Tetap semangat dan terus melaksanakan perkuliahan. Pada kesempatan ini Admin mohon ijin berbagi informasi:
Mohon izin untuk membahas.

Sumber Kekuasaan Menurut John R.P.French Dan Berthram Raven

Sumber kekuasaan menurut John R.P.French dan Berthram Raven, sebagai berikut:
1.       Kekuasaan Balasan/ Penghargaan (Reward Power)
Kekuasaan penghargaan merupakan kekuasaan yang berasal dari kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan penghargaan/ balasan, yang merupakan sesuatu yang berarti dan dibutuhkan, kepada mereka yang membutuhkan karena telah melakukan pekerjaan tertentu. Dengan kata lain, kekuasaan penghargaan berkaitan dengan kemampuan seorang pemimpin untuk memepengaruhi bawahan dengan memberikan ganjaran berupa gaji atas pekerjaan dan perilaku mereka yang positif atau perilaku yang sesuai dengan yang dikehendaki pemimpin.
Letak kekuatan dari kekuasaan ini bergantung pada daya pikat dan tingkat kepastian akan kontrol seorang pemimpin atas ganjaran tersebut. Salah satu bentuk kekuasaan adalah memberikan penghargaan terhadap bawahan adalah wewenang memberikan kenaikan gaji, bonus atau insentif ekonomi yang pantas bagi bawahan.
2.       Kekuasaan Paksaan (Coercive Power)
Kekuasaan paksaan merupakan kekuasaan yang berasal dari kemampuan seseorang menghukum orang lain jika orang tersebut tidak dapat melakukan pekerjaan tertentu sehingga muncul ketakutan akan hukuman yang diberikan pimpinan kepada mereka yang tidak patuh terhadap apa yang dikehendakinya. Kekuasaan ini merupakan sisi negative dari kekuasaan balasan. Dengan kata lain, kekuasaan paksaan merupakan kemampuan pemimpin untuk memepengaruhi perilaku bawahan dengan memberikan sanksi atas tindakan mereka yang tidak sesuai dengan kehendak pemimpin. Kekuatan kekuasaan ini terletak pada beratnya hukuman dan kemungkinan untuk menghindari hukuman itu. 
3.       Kekuasaan Legitimasi (Legitimate Power)
Kekuasaan legitimasi adalah kekuasaan yang lahir dari kedudukan formal seseorang dalam organisasi sehingga ia memiliki “hak” atau secara hukum diperbolehkan memengaruhi orang lain dalam wilayah tertentu sehingga bisa juga disebut wewenang formal atau resmi. Dengan jabatan formal tersebutlah seorang pemimpin dapat mempengaruhi dan memerintah bawahannya dan bawahan secara implicit wajib patuh kepadanya. Bawahan mengetahui bahwa pimpinan memiliki hak untuk memberikan perintah dan mereka memiliki kewajiban untuk mentaatinya. Kekuasaan legitimasi ini merupakan sumber otoritas.
4.       Kekuasaan Referen (Reverent Power)
Kekuasaan datang karena seseorang atau suatu kelempok ingin meniru atau mengidentifikasikan dirinya sebagai orang tertentu. Dengan kata lain kekuasaan referen/referensi merupakan kekuasaan yang lahir karena seseorang memiliki daya tarik atau kharisma tertentu. Kekuasaan referen juga salah satu bentuk kemampuan pimpinan untuk mempengaruhi perilaku bawahan karena simpati bawahan kepada pimpinannya yang popular dan menjadi model bagi bawahan. Orang yang memiliki kekuasaan referen akan dikagumi, dihormati dan dijadikan model untuk diteladani. Sumber kekuasaan referen adalah kepribadian dan kecerdasan interpersonal yang luar biasa yang dimiliki seorang individu.
5.       Kekuasaan Kepakaran Ahli (Expert Power)
Kekuasaan ahli merupakan kekuasaan yang muncul karena seseorang memiliki keahlian atau kemampuan khusus. Setiap pengikutnya akan patuh pada apa yang dikatakannya karena merasa pemimpinya memiliki pengetahun dan keterampilan yang lebih dari yang mereka miliki dan yang dimiliki tersebut akan bermakna dan membantu mereka. Bukti dari keahlian seseorang dapat terlihat dari ijasah, lisensi, dan piagam penghargaan. Akan tetapi, cara yang paling menyakinkan dalam memperlihatkan keahlian dengan menyelesaikan masalah penting, membuat keputusan yang tepat, memberikan petunjuk yang bagus, dan berhasil menyelesaikan tantangan dari proyek yang sangat sulit. Misalnya seorang dokter dapat menyuruh pasiennya untuk meminum obat, dan pasiennya bersedia meminum obat tersebut karena pasien menganggap dokter mempunyai keahlian dalam bidang kesehatan, sementara pasien tidak punya.

Tiga tipe pengawasan dalam pengendalian sebuah organisasi, diantaranya yaitu:

1.       Pengawasan Pendahuluan (preliminary control/ Steering Control).
Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.
Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan.
Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Pengawasan pendahuluan meliputi; Pengawasan pendahuluan sumber daya manusia, Pengawasan pendahuluan bahan-bahan, Pengawasan pendahuluan modal dan Pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya financial.
2.       Pengendalian Concurent (Yes/No)
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan salesman.
Tipe pengendalian ini kurang popular bila dibandingkan dengan tipe pengendalian feedforward, akan tetapi tipe pengendalian ini dapat digunakan sebagai pelengkap dan digunakan bersama-sama dengan pengendalian feedforward. Diantaranya dengan melakukan:
  • Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode-metode serta prosedur-prosedur yang tepat.
  • Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
3.       Pengawasan Umpan Balik (Post Action Control)
Pengawasan Feed Back yaitu mengevaluasi dan mengukur hasil yang telah terjadi pada suatu kegiatan yang telah dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar.Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.

Sumber
Hanafi, Mamduh. 2019, Manajemen, Tangerang Selatan, Universitas Terbuka
Yulk, G. 2001. Kepemimpinan dalam Organisasi 5th. Edisi Terjemahan. Jakarta: PT Indeks.

Semoga informasi materi diatas bermanfaat. Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan, saran dan masukan sangat berarti untuk perbaikan kedepan, jika bermanfaat dan membantu silahkan di SHARE. Terima kasih atas kunjungannya.
Wassalamu'alaikum...Wr.Wb.

Post a Comment for "Sumber Kekuasaan Menurut John R.P. French Dan Berthram Raven"